Waduh! Harga Cabai Perkilo di Daerah Ini Tembus Rp130 Ribu

Siapa yang tidak suka pedas ? hampir seluruh masyarakat Indonesia hobi makan pedas, serta hampir seluruh masakan khas Indonesia menggunakan bahan dasar cabai di dalamnya.

Namun bila harga cabai melonjak tinggi, bukan saja konsumen yang diberatkan tapi pedagang pun akan mengalami kesulitan karena pembeli akan menurun dan jumlah pemasukan kepada padagang imbasnya.

Di Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, harga cabai kecil kini menembus Rp130 ribu per kilogram sehingga banyak dikeluhkan kalangan pedagang dan para pembeli di wilayah itu.

“Harga belum turun sejak bencana alam yang terjadi beberapa waktu lalu. Sempat memang naik jauh sampai Rp150 ribu per kilogram, kini mandeg pada harga Rp120 ribu sampai Rp130 ribu per kilogram,” kata Luh Supadmi, salah satu pedagang di Pasar Banyuasri, Sabtu (4/3).

Ia mengatakan, pihaknya tidak dapat berbuat banyak dan mengharapkan adanya perhatian pemerintah daerah segera melakukan tindakan dengan melakukan operasi pasar atau sejenisnya.

Supadmi mengungkapkan, akibat mahalnnya harga cabai menyebabkan dirinya kehilangan banyak langganan. Bukan hanya itu saja, omzet menurun karena memang cabai salah satu kebutuhan pokok yang banyak dicari.

“Turun memang omzet saya karena cabai mahal. Turunnya sekitar 30 persen lebih. Harapannya harga segera stabil sehingga kembali seperti sedia kala, langganan juga kembali datang,” harapnya.

Ia juga menambahkan, pedagang mengalami kerugian jika terus harga cabai mahal. Cabai yang didiamkan dalam waktu lama akan cepat mengalami pembusukan sehingga tidak dapat dijual.

“Kadang kala kalau harga terlalu mahal sedikit yang beli. Apalagi pedagang kecil seperti saya yang harus membeli cabai dari pengepul dulu. Kalau sudah lama pasti busuk,” terangnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mencatat harga cabai yang meningkat hingga mencapai Rp130.000 per kilogram menjadi salah satu pemicu inflasi di Kota Singaraja, ibu kota Kabupaten Buleleng hingga sebesar 0,79 persen dalam bulan Februari 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *